Berita

Sikap Orangtua yang Menghambat Prestasi Anak

Sikap Orangtua yang Menghambat Prestasi Anak

KOMPAS.com - Setiap keunikan minat dan bakat yang dimiliki anak bisa membuat mereka menjadi anak yang berprestasi. Hanya saja, terbentuknya mental juara dan pencapaian prestasi mereka membutuhkan dukungan orangtua, keluarga, dan lingkungan terdekat anak.

"Dukungan orangtua memberi pengaruh yang sangat besar terhadap keberhasilan anak dalam suatu bidang," ungkap psikolog Mira D. Amir,

Mira menambahkan, interaksi ideal yang terjalin antara orangtua dan anak bisa menjadi kesempatan yang tepat untuk mengetahui bakat dan minat anak, sehingga orangtua bisa mengarahkan, mendukung, memberikan asupan nutrisi berimbang, serta menyediakan berbagai fasilitas yang diperlukan. Sayangnya, banyak orangtua yang belum memahami aspirasi dan keinginan anak untuk berkembang dan berprestasi.

"Bahkan yang paling buruk, orangtua malah jadi penghambat anak-anak untuk berprestasi," tukasnya.

Beberapa sikap orangtua yang bisa menghambat prestasi anak antara lain:

1. Ibu pemarah. Salah satu faktor yang menyebabkan anak kurang berprestasi adalah sifat ibu yang cenderung pemarah. "Ibu yang sering memarahi anaknya akan membuat anak jadi suka membangkang," ujar Mira. Akibatnya anak akan mencari pelampiasan, sehingga mereka cenderung bertindak ke arah yang negatif dan tidak mampu berprestasi.

2. Memaksa anak jadi "pintar". Setiap orangtua pasti punya keinginan untuk punya anak yang pintar. Berbagai cara pun dilakukan orangtua untuk membuat anaknya pintar, termasuk menjejali mereka dengan berbagai les pelajaran setelah pulang sekolah. Padahal anak juga membutuhkan waktu untuk bermain.

"Waktu bermain untuk anak-anak sebenarnya bisa membantu mereka untuk bersantai. Sebaliknya, membebani anak untuk selalu belajar akan membuat mereka jadi stres dan justru tidak berprestasi," jelasnya.

3. Melakukan kekerasan pada anak. Faktor kekerasan pada anak, pasti akan membuat anak jadi tertekan. Keadaan tertekan bisa membuat mereka tidak mampu mengekspresikan keinginan dan menyalurkan bakat. Rasa takut karena ancaman akan membuat anak menuruti perintah dan melakukannya dengan terpaksa.

"Karena terpaksa, pekerjaan yang mereka lakukan tidak akan maksimal dan akhirnya tidak membuahkan prestasi maksimal," papar Mira.

4. Kecanduan gadget
Di era teknologi seperti sekarang, gadget menjadi salah satu senjata ampuh untuk menghabiskan waktu. Gadget juga dianggap menjadi cara untuk bisa membuat anak lebih menurut dan tidak rewel. Alasan lain memperkenalkan gadget pada anak juga agar anak lebih melek teknologi.

"Sayangnya, mereka tidak sadar bahwa gadget juga punya sisi buruk yang bisa membuat anak kecanduan, dan jadi malas belajar. Membagi waktu yang tepat, dan memanfaatkan teknologi dengan baik, akan membuat anak jadi melek teknologi dan juga cerdas," bebernya.


Tanggapan

Artikel Lainnya

Guru Akan Didampingi di Dalam Kelas

Guru Akan Didampingi di Dalam Kelas

Persiapan guru untuk kurikulum baru yang akan diterapkan pada Juli bukan hanya terbatas pada pelatihan, melainkan juga akan ada pendampingan intensif bagi para guru oleh Lembaga Pendidikan Tenaga Pendidikan (LPTK), Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP), serta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaaan.Menteri

READ MORE
Siswa Jadi Korban Penerapan Kurikulum Baru

Siswa Jadi Korban Penerapan Kurikulum Baru

  Kurikulum baru yang akan mulai diterapkan Juli 2013 dinilai oleh Pengamat pendidikan dari Universitas Paramadina Utomo Dananjaya, tidak dikaji oleh pemerintah secara sungguh-sungguh. Sehingga siswa selalu menjadi korban penerapannya. "Pengkajian kurikulum pemerintah selalu terkesan asal-asalan. Kasihan para

READ MORE